Tantangan Produksi Susu Sapi Perah di Iklim Tropis

Industri sapi perah di wilayah tropis seperti Indonesia menghadapi tantangan lingkungan yang tidak ringan. Suhu tinggi yang dikombinasikan dengan kelembapan ekstrem secara konsisten menyebabkan Temperature-Humidity Index (THI) berada di atas ambang nyaman sapi perah, yaitu di atas angka 72.

Pada kondisi ini, sapi perah berpotensi genetik tinggi seperti Friesian Holstein sangat rentan mengalami heat stress. Dampaknya tidak hanya terlihat pada perubahan perilaku dan kenyamanan hewan, tetapi juga berujung pada penurunan konsumsi pakan, gangguan metabolisme, hingga depresi produksi susu yang signifikan.

Dalam jangka panjang, heat stress menjadi salah satu faktor utama yang menghambat optimalisasi produksi susu nasional, terutama di tengah tantangan perubahan iklim global.

Slick Gene: Pendekatan Genetik untuk Ketahanan Panas

Salah satu pendekatan strategis yang semakin mendapat perhatian adalah introgresi Slick Gene pada sapi perah. Slick Gene merupakan varian alel pada gen Prolactin Receptor (PRLR) yang berperan penting dalam mekanisme adaptasi sapi terhadap suhu lingkungan yang tinggi.

Secara molekuler, Slick Gene merupakan mutasi yang menyebabkan perubahan struktur protein PRLR, sehingga memengaruhi jalur pensinyalan seluler yang berkaitan dengan termoregulasi tubuh. Perubahan ini memungkinkan sapi mempertahankan kestabilan suhu internal meskipun berada di lingkungan panas.

Slick Gene secara alami ditemukan pada sapi Senepol, dan diekspresikan dalam bentuk fenotipe khas berupa:

Karakteristik inilah yang menjadikan Slick Gene sangat relevan untuk pengembangan sapi perah di daerah tropis.

Mekanisme Biologis Slick Gene dalam Ketahanan Panas

Kemampuan adaptasi sapi dengan Slick Gene terhadap lingkungan panas bekerja melalui beberapa mekanisme utama:

  1. Peningkatan Efisiensi Evaporasi : Sapi dengan Slick Gene memiliki laju produksi keringat yang lebih tinggi, sehingga proses heat dissipation berlangsung lebih efektif.
  1. Stabilitas Suhu Inti Tubuh : Berbagai penelitian menunjukkan bahwa suhu rektal atau vagina sapi Slick dapat lebih rendah sekitar 0,5–0,8°C dibandingkan sapi non-Slick, menandakan kestabilan fisiologis yang lebih baik.
  1. Efisiensi Respirasi : Laju respirasi yang lebih rendah menunjukkan bahwa sapi tidak perlu bekerja terlalu keras untuk mendinginkan tubuhnya, sehingga risiko stres metabolik dapat ditekan.

Ketiga mekanisme ini berkontribusi langsung terhadap kemampuan sapi mempertahankan performa produksi di bawah tekanan panas.

Pewarisan Slick Gene dan Strategi Introgresi

Pewarisan Slick Gene bersifat dominan, artinya sapi yang memiliki minimal satu alel Slick sudah dapat mengekspresikan sifat tahan panas tersebut.

Secara genetik:

Introgresi Slick Gene dapat dilakukan melalui:

Penggunaan pejantan homozigot (TT) menjadi strategi paling efisien, karena menjamin 100% keturunannya membawa alel Slick meskipun dikawinkan dengan indukan normal (tt).

Dampak Slick Gene terhadap Produksi Susu

Keunggulan adaptasi panas pada sapi Slick berdampak langsung pada performa produksi susu. Dalam kondisi lingkungan panas, perbandingan performa antar genotipe menunjukkan perbedaan yang jelas:

Parameter

Genotipe
TT Tt

tt

Total Produksi (L/305 hari)

4.356

4.000

2.537

Puncak Produksi (L/hari)

22,0

20,6

14,7

Berat badan (kg)

527

503

486

Sapi dengan genotipe TT menunjukkan performa produksi susu tertinggi, sementara sapi non-Slick (tt) mengalami penurunan produksi yang signifikan akibat keterbatasan adaptasi panas.

Secara strategis, genotipe TT mampu menghasilkan produksi susu hingga ±9% lebih tinggi dibandingkan genotipe Tt, terutama pada kondisi THI tinggi yang umum terjadi di wilayah tropis.

Implikasi Strategis bagi Industri Persusuan Indonesia

Introgresi Slick Gene bukan sekadar inovasi genetik, melainkan bagian dari strategi adaptasi jangka panjang industri persusuan nasional. Dengan mengombinasikan potensi genetik tinggi sapi Holstein dan ketahanan panas Slick Gene, peternak dapat memperoleh ternak yang lebih stabil secara fisiologis dan produktif secara ekonomi.

Namun, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada:

Dalam sistem pemuliaan modern, integrasi antara analisis DNA, strategi breeding, dan manajemen reproduksi menjadi kunci agar investasi genetik benar-benar memberikan dampak nyata di lapangan.

Kesimpulan

Introgresi Slick Gene merupakan strategi adaptasi terhadap perubahan iklim yang sangat potensial untuk industri sapi perah Indonesia. Dengan introgresi Slick Gene sapi Holstein yang memiliki potensi genetik tinggi dapat mengekspresikan kapasitas produksinya secara maksimal tanpa terhambat oleh beban fisiologis akibat suhu lingkungan yang ekstrem. Rekomendasi Strategis yang dapat diajukan adalah :

  1. Prioritas Genotipe: Sangat direkomendasikan untuk mengadopsi genotipe homozigot Slick Gene (TT) guna mendapatkan stabilitas termoregulasi dan hasil produksi susu tertinggi di wilayah tropis.
  2. Pemuliaan Terarah: menggunakan pejantan homozigot untuk memastikan efisiensi waktu dalam mentransformasi keturunan sapi tersebut menjadi populasi yang tahan panas.
  3. Kesejahteraan dan Ekonomi: introgresi Slick Gene ini akan secara langsung meningkatkan kesejahteraan hewan (animal welfare) dengan meminimalisasi stres yang pada gilirannya akan memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi susu domestik yang berkelanjutan.

 

Referensi

Dikmen, S., Khan, F. A., Huson, H. J., Sonstegard, T. S., Moss, J. I., Dahl, G. E., and Hansen, P. J. (2014): The SLICK hair locus derived from Senepol cattle confers thermotolerance to intensively managed lactating Holstein cows, Journal of Dairy Science, 97(9), 5508–5520. https://doi.org/10.3168/JDS.2014-8087

Donkersloot, E. G., Winkelman, A. M., Leathwick, I. L., Arias, J. A., Manuel-Sanchez, J., Spelman, R. J., and Davis, S. R. (2025): The relative milk production of dairy cattle in tropical Costa Rica that are heterozygous and homozygous for the SLICK1 allele, JDS Communications, 6(5), 710–713. https://doi.org/10.3168/JDSC.2025-0810

Porto-Neto, L. R., Bickhart, D. M., Landaeta-Hernandez, A. J., Utsunomiya, Y. T., Pagan, M., Jimenez, E., Hansen, P. J., Dikmen, S., Schroeder, S. G., Kim, E. S., Sun, J., Crespo, E., Amati, N., Cole, J. B., Null, D. J., Garcia, J. F., Reverter, A., Barendse, W., and Sonstegard, T. S. (2018): Convergent evolution of slick coat in cattle through truncation mutations in the prolactin receptor, Frontiers in Genetics, 9(FEB), 306154. https://doi.org/10.3389/FGENE.2018.00057/BIBTEX

 

Leave a Reply