Indonesia, sebagai negara tropis dengan suhu dan kelembapan yang tinggi sepanjang tahun, memiliki tantangan tersendiri dalam pengembangan peternakan sapi perah. Sapi perah unggul seperti Friesian Holstein (FH) memang berada di posisi teratas dalam memproduksi susu, namun sapi FH sebenarnya adalah sapi yang menyukai suhu lingkungan yang cenderung sejuk.
Ketika sapi-sapi ini harus tinggal di iklim tropis, masalah utama muncul, yaitu cekaman panas atau heat stress. Lalu, bagaimana solusinya agar sapi tetap dingin dan produksi susu aman? Jawabannya mungkin tersembunyi di dalam gen mereka sendiri, yaitu Slick Gene.
-
Tantangan Beternak di wilayah tropis Indonesia
- Produksi susu anjlok: Energi yang seharusnya dipakai untuk membuat susu, dialihkan tubuh sapi untuk mendinginkan diri (seperti bernapas cepat/panting).
- Kesehatan menurun: Sapi menjadi malas makan (feed intake menurun), sistem kekebalan tubuh melemah, dan rentan sakit.
- Gangguan reproduksi: Sapi menjadi sulit bunting atau mengalami keguguran dini karena kekurangan nutrien imbs dari penurunan nafsu makan dan stess.
-
Apa itu Slick Gene?
Mengapa Rambut Pendek Bisa Bikin Tahan Panas?
Sapi yang memiliki Slick Gene memiliki keunggulan fisiologis dibandingkan sapi berbulu normal yaitu:- Rambut pendek tipis sehingga memudahkan pelepasan panas tubuh langsung ke udara karena panas tidak terperangkap di antara bulu yang tebal.
- Kelenjar keringat lebih aktif sehingga proses pendinginan tubuh dengan cara evaporasi berjalan lebih efisien.
- Suhu tubuh stabil dalam kondisi panas Terik sehinga mampu menjaga suhu rektal (suhu tubuh inti) tetap lebih rendah (sekitar 0.5°C – 1°C lebih dingin) dibandingkan sapi normal.
Sejarah Singkat Slick Gene
Slick Gene pertama kali diidentifikasi pada bangsa sapi Senepol. Asal-usul dari Sapi Senepol sendiri yaitu sapi yang dikembangkan di pulau St. Croix, Kepulauan Virgin (Karibia) yang merupakan hasil persilangan antara sapi N’Dama (sapi asli Afrika yang tahan panas) dan sapi Red Poll (sapi Inggris). Selama ratusan tahun terjadi seleksi alam sehingga hanya sapi yang berambut pendek (slick) yang mampu bertahan hidup dan berproduksi baik di iklim tropis Karibia yang panas dan lembap. Gen Slick yang dimiliki Sapi Senepol mulai disilangkan (kawin silang) dengan sapi perah Holstein untuk menghasilkan jenis persilangan sapi perah baru yang mempunyai produksi susu yang tinggi (sifat Holstein) dan tahan panas (sifat Slick).3. Mengapa Indonesia Memerlukan Sapi “Slick”?
Indonesia adalah wilayah dengan tingkat kelembapan yang tinggi. Kombinasi antara suhu panas dan kelembapan tinggi menciptakan apa yang disebut dengan Temperature-Humidity Index (THI) yang cukup ekstrem bagi sapi perah asal sub-tropis (seperti FH). Introduksi Slick Gene ke dalam populasi sapi perah di Indonesia dapat membantu masalah Heat Stress yang dialami oleh sapi perah sehingga produksinya akan cenderung stabil bahkan meningkat. Peningkatan produksi susu ini juga dapat menjaga ketahanan pangan nasional, khususnya produksi susu dalam negeri.4. Keunggulan Utama Sapi Perah dengan “Slick Gene”
-
Suhu Tubuh Lebih Stabil & Metabolisme Terkontrol
-
Efisiensi Pakan yang Lebih Baik
-
Produksi Susu Tetap Stabil
-
Angka Kebuntingan (Reproduksi) Meningkat
-
Sapi Tidak Mudah Stres (Welfare)